Jumat, 31 Juli 2009

BRI Cabang Rangkasbitung Gelar Pesta Rakyat Simpedes

Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Rangkasbitung, Kabupaten Lebak baru-baru ini menggelar acara Pesta Rakyat Simpedes di alun-alun Rangkasbitung (25/7). Acara tersebut dihadiri Bupati Lebak, Wakil Bupati Lebak, Kapolres Lebak, Dandim Lebak, segenap Kepala dinas (Kadis), Badan dan Kantor dilingkungan Pemkab Lebak serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya Bupati Lebak, H. Mulyadi Jayabaya berharap, pihak BRI Cabang Rangkasbitung lebih meningkatkan pelayanan perbankan terhadap masyarakat khususnya masyarakat Kabupaten Lebak, terkait segala bentuk simpanan maupaun bantuan kredit yang telah diprogramkan oleh pemerintah, seperti dalam penyalurkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) lebih tepat pada sasaran dan target.

Karena dengan KUR itu, lanjutnya, dapat membantu dalam permodalan usaha atau memperingan beban para kelompok usaha kecil dan menengah (KUKM) untuk melakukan aktivitas usahanya guna tercapainya tingkat ekonomi dan kesejahteraan yang baik dan layak.

“Saya berharap, BRI lebih meningkatkan pelayanannya pada masyarakat (nasabah) dan dapat dalam penyaluran KUR, tepat pada sasaran, lebih berpihak pada orang yang benar-benar membutuhkannya,” katanya.

Pada acara tersebut, Bupati Lebak, H. Mulyadi Jayabaya berkesempatan memberikan bantuan paket sembako kepada 10 warga rangkasbitung yang kurang mampu. Dan memhimbau kepada masyarakat Lebak untuk lebih peduli dan memakai hasil produk dari Kabupaten Lebak (produk lokal).

Sementara itu, kepala BRI Cabang Rangkasbitung, Agung Sulistijo saat dikonfirmasi MN disela-sela acara menjelaskan, dari tahun ketahun jumlah nasabah BRI semakin bertambah, saat ini tercatat sebanyak kurang lebih 43 ribu nasabah BRI yang tersebar di semua unit BRI di Kabupaten Lebak dengan jumlah nominal asset nasabah sebesar Rp. 113, 9 milyar. Dengan bertambahnya jumlah nasabah di BRI, lanjut Agung, itu menandakan bahwa masyarakat percaya terhadap keberadaan dan pelayanan yang diberikan oleh pihak BRI, baik BRI Cabang Rangkasbitung maupun di unit-unit BRI yang tersebar di Kabupaten Lebak.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Lebak (nasabah) yang telah percaya akan pelayanan yang telah kami berikan,” kata Agung.

Selain Simpedes, jelas Agung lagi, di BRI juga terdapat Kredit umum pedesaan (Kupedes). Dikatakan Agung, terhitung bulan Juni 2009 sudah tersalurkan dana sebesar Rp. 330 milyar dan masyarakat (nasabah) telah melakukan pengembalian (angsuran) kreditnya maka terdapat sisa pinjaman sebesar Rp. 64 milyar.

Pada acara tersebut, pihaknya akan melakukan pengundian para nasabah BRI untuk mendapat hadiah yang telah disediakan. Untuk hadiah utama yaitu, 1 unit mobil dan 5 unit motor serta hadiah hiburan lainnya. Pada acara itu juga, pihaknya memberikan kesempatan bagi para nasabah KUR untuk tampil memamerkan produknya pada pameran produk di pesta rakyat simpedes tersebut.

RA. Sudrajat

Tidak Tepat Sasaran Penyaluran Dana Bantuan Panti Asuhan Di Lebak Diduga Bermasalah


Dana bantuan untuk panti asuhan di Kabupaten Lebak Provinsi Banten yang berasal dari dana APBN, Departemen Sosial (Depsos) dalam praktek penggunaan atau penyalurannya diduga kuat bermasalah karena tidak tepat pada sasaran.

Tahun 2009 ini, sebanyak 50 yayasan atau pondok pesantren (Ponpes) di Kabupaten Lebak mendapatkan dana bantuan dari Departemen Sosial (APBN). Tujuan dari dana bantuan tersebut yakni, untuk membantu atau meringankan beban pengelola yayasan atau ponpes dalam memberikan makan pada anak asuhnya. Hal itu, dikatakan Kapala bidang Kesejahteraan Sosial (Kabid Kesos), Dinas Tenaga kerja dan Sosial Kabupaten Lebak, Heri Mulyadi, SH.

Dikatan Heri, bantuan tersebut berupa uang dengan rincian Rp.3 ribu/orang/tahun, dalam arti Negara membantu untuk makan orang yang diasuhnya Rp. 3 ribu perhari untuk satu orang selama satu tahun. Rata-rata untuk satu yayasan atau ponpes yang dapat dana bantuan tersebut sebanyak 20 hingga 30 orang.

“Bantuan berbentuk uang, untuk makan orang yang diasuhya,” kata Heri saat ditemui MN diruang kerjanya (22/7).

Dijelaskan Heri, tujuan dari dana bantuan tersebut adalah untuk membantu makan orang atau anak yang diasuhnya. Jika ada yayasan atau ponpes, si penerima bantuan tidak melaksanakan sesuai petunjuk teknis (Juknis) atau digunakan diluar dari tujuan yang dimaksud maka yayasan atau pondok pesantren itu telah melakukan tindakan yang salah dan bertentangan dengan Juknis serta Juklak yang ada.

“Kalau ada Yayasan si penerima dana bantuan tersebut dalam penggunaannya tidak sesuai dengan tujuan dan juknis yang ada, maka itu adalah hal yang salah dan tidak diperbolehkan,” tegas Heri.

Tidak Mengetahui

Informasi yang diterima MN, di Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak terdapat 5 Yayasan atau ponpes yang menerima dana bantuan dari Depsos tersebut. Salah satunya adalah Yayasan atau Ponpes Al- Baniya yang bertempat di Desa Muaradua.
Pantauan MN yang datang dua kali ke yayasan tersebut, pertama datang pada tanggal 20 Juli (hari libur) pukul 14.30 WIB dan selang beberapa hari, tepatnya tanggal 25 Juli pukul 12.30 WIB, Yayasan Al- Baniya terlihat sangat sepi tidak ada aktivitas atau tidak terlihat adanya kegiatan anak asuh. Padahal pihak yayasan tersebut menerima dana bantuan tersebut sebanyak 20 orang anak asuh.

Saat dikonfirmasi MN, pimpinan Yayasan Al- Baniya, H.Maemun (25/7), mengatakan, bahwa anak yang diasuhnya sedang pada sekolah dan belum pulang. Di Al- Baniya sendiri, lanjut H. Maemun, terdapat anak asuh diluar panti dan ada anak asuh di dalam panti.

Sementara itu, Camat Cikulur, Edi Nurhedi didamping Kasi Kesos Kecamatan Cikulur, Danu, saat ditanya MN terkait dana bantuan tersebut, mengatakan pihaknya tidak mengetahui adanya penyaluran dan penerima dana bantuan ke Yayasan panti asuhan atau ponpes diwilayah kerjanya. Pasalnya, baik si pemberi bantuan maupun si penerima bantuan tidak ada yang memberikan laporan ke pihak kecamatan.

“Kami tidak tahu adanya dana bantuan dari Depsos untuk yayasan panti asuhan ke Kecamatan Cikulur, karena tidak ada laporan baik lisan maupun tulisan dari lembaga yang memberi dana bantuan maupun dari lembaga yang menerima bantuan,” katanya.

Diduga Memanipulasi Data dan Laporan

Tempat terpisah, tokoh masyarakat dan pemuda Desa Muaradua Kecamatan Cikulur, Eli Sachroni saat ditemuai MN dikediamannya (25/7) merasa terkejut dan tidak menyangka kalau Yayasan Al- Baniya yang berada didesanya mendapat dana bantuan panti asuhan. Pasalnya, sepengetahuan dirinya, di yayasan tersebut tidak pernah terdengar dan terlihat ada kegiatan anak asuh.

Untuk itu, Eli Sahcroni sangat menyayangkan dan mengecam keras atas segala tindakan para ketua yayasan atau pimpinan ponpes yang berada didesanya yang suka mengatasnamakan yayasan atau ponpes dengan menjual-jual nama orang atau santri demi mendapatkan uang atau keuntungan pribadi semata. Karena menurutnya belum tentu orang yang diusulkan namanya dalam permohonan bantuan tersebut (proposal –red) mengetahui namanya disusulkan, sehingga dalam penggunaan dana tersebut kemungkinan besar terjadi penyelewengan atau penyimpangan dari aturan juknis yang dapat merugikan keuangan Negara.

“Saya menduga keras, mereka itu (penerima bantuan) memanipulasi data dan laporannya,” tegas Eli.

Masih kata Eli, para penerima dana bantuan dari Depsos itu, adalah mayoritas adalah para kyai atau tokoh ulama yang jelas-jelas mengetahui dan memahami betul tentang hukum agama.

“mereka (penerima bantuan) itu kan, para kyai, tokoh ulama dan agama, yang suka menasehati dan mengingatkan umat, disaat ceramah atau dakwah di tempat-tempat pengajian. Pokoknya mereka itu, jelas-jelas tahu dan paham tentang ilmu dan hukum agama. Tapi kenapa mereka sendiri melakukan tindakan berbohong dengan memanipulasi data dan laporan. Itukan namanya dosa, dibenci Allah SWT,” kata Eli.

Untuk itu, Eli berharap kepada pihak-pihak terkait baik kejaksaan maupun kepolisian untuk segera menangani permasalahan dugaan penyelewengan dana bantuan tersebut. Agar Bangsa dan Negara yang kita cintai ini tidak lagi dirugikan oleh dan tangan-tangan kotor.

RA. Sudrajat

Membuka Akses Badan Jalan Kapunduan Warga Desa Sumurbandung Lakukan “Gugur Gunung”

Sebuah karya nyata dan bentuk kepedulian Kepala desa bersama-sama warga Desa Sumurbandung Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak terhadap perkembangan pembangunan di Kampung Kapunduan Desa Sumurbandung yang kondisinya telah lama terisolir, belum lama ini melakukan kegiatan gotong royong (swadaya –red) membuka akses badan jalan (gugur gunung) ke kampung tersebut sepanjang 2 kilometer. Hal tersebut dikatakan Kepala Desa Sumurbandung, Amin Hidayat.

Dikatakan Amin, gugur gunung tersebut dilakukan agar terjadinya pemerataan pembangunan didesanya. Pasalnya, berpuluh-puluh tahun lamanya jalan menuju Kampung Kapunduan merupakan jalan setapak sehingga sangat sulit atau tidak bisa dilalui oleh kendaran, khususnya kendaran roda empat (mobil) dan bila musim hujan tiba, kendaraan roda dua (motor) pun akan kesulitan melalui jalan tersebut, karena kondisi jalan licin bercampur tanah merah.

“Sudah berpuluh-puluh tahun, keberadaan Kampung Kapunduan sangat terilosir. Maka aparat desa bersama warga bergotong royong membuka akses badan jalan Kapunduan sepanjang 2 kilometer,” kata Amin pada MN dikediaman (29/7).

Amin menjelaskan, Kampung Kapunduan diibaratkan adalah sebuah pulau diareal persawahan, menuju ke kampung tersebut, melewati hutan dan persawahan. Jumlah penghuni di kampung tersebut sebanyak 31 rumah dengan 40 Kepala Keluarga (KK), dengan mata pencaharian warga mayoritas petani. Selain padi, hasil sumber alam yang dapat diandalkan dari kampung tersebut juga terdapat buah-buah.

Dengan telah terbentuknya badan jalan, lanjut Amin, nantinya akan diusahakan untuk dilakukan pengerasan jalan pada jalan tersebut melalui program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Pedesaan tahun ini dan secara bertahap pula nantinya akan diupayakan untuk di hotmik melalui Program Hotmix Masuk Desa (HMD).

“Rencana kami, setelah terbentuk badan jalan, maka akan mengajukan kegiatan pengerasan jalan tersebut melalui PNPM –Pedesaan dan selanjutnya akan diusulkan lagi pada Program HMD,” kata Amin.

Tidak adanya Jaringan Listrik

Ditambahkan Amin, satu bukti lagi, kalau kondisi Kampung Kapunduan terisolir yakni, belum adanya jaringan listrik (tiang-tiang listrik) yang layak dan memadai. Jaringan yang ada saat ini, mengambil dari kampung tetangga dengan tiang-tiang seadanya dari batang-batang bambu atau pepohonan.

Untuk itu, karena semua ini merupakan kewajiban dan tangungjawab bersama, pihaknya berharap kepada pemerintah baik Pemerintah Kabupaten (Pemkab Lebak), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten maupun Pemerintah Pusat untuk peduli dan turut serta membangun Kampung Kapunduan agar tercapainya suatu pemerataan dalam pembangunan desa, sehingga keberadaan warga di Kampung Kapunduan sama dengan warga-warga kampung lainnya yaitu dapat dengan leluasa melakukan aktivitas tanpa adanya hambatan, yang pada akhirnya akan mendongkrak aspek perekonomi dan pendapatan warga di kampung tersebut.

Terpisah, Marsim (40) warga Kampung Kapunduan merasa bersyukur dengan telah terbentuknya badan jalan ke kampungnya. Menurutnya, tahun berganti tahun, kades-berganti kades, baru kades yang sekarang yang mampu membuka akses badan jalan yang kini bisa dilalui kendaraan roda empat. Dahulu, jelas Marsim, jalan menuju ke Kampung Kapunduan merupakan jalan setapak yang sulit dilalui kendaraan, sehingga warga yang mau berpergiaan keluar harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer. Kini berkat kepepimpinan Kades yang sekarang, warga Kampung Kapunduan dapat berpergian menggunakan kendaraan, walau kondisi badan jalan masih tanah merah.

Marsim bersama warga Kampung Kapunduan lainnya berharap, agar jalan menuju ke kampungnya dapat ditingkatkan lagi seperti jalan-jalan yang berada dikampung lain. Selain itu, keberadaan jaringan listrik sangat dibutuhkan di kampungnya.
“Kami ucapkan terimakasih kepada Kades dan warga desa Sumurbandung lainnya yang telah peduli terhadap keberadaan Kampung Kapunduan. Serta kepada pemerintah agar terus peduli dan memperhatikan untuk membangun kampung kami agar dapat berdiri sama dengan kampung-kampung lainnya,” katanya pada MN.

RA.Sudrajat

Jumat, 24 Juli 2009

Kejaksaan Negeri Rangkasbitung Peringati Hari Bhakti Adhyaksa Ke – 49

Kejaksaan Negeri Rangkasbitung baru - baru ini menggelar acara peringatan Hari Bhakti Adhyaksa ke – 49 bertempat di aula kantor Kejaksaan Negeri Rangkasbitung (22/7). Hadir pada acara tersebut unsur Muspida Kabupaten Lebak, Bupati Lebak, H. Mulyadi Jayabaya, Kapolres Lebak, Dandim Lebak, para Kepala Dinas, Badan dan Kantor, Alim Ulama serta tamu undangan lainnya.

Kepala Kejaksaan Negeri Rangkasbitung, Rodiansyah, SH, dalam sambutannya mengatakan, acara ini mengambil tema, Melalui Hari Bhakti Adhyaksa 2009 “Kita songsong reformasi birokrasi kejaksaan menuju terwujudnya aparat kejaksaan yang professional dan berintegritas moral yang tangguh”. Dalam hal ini, pihaknya berharap dalam memberi pelayanan hukum pada masyarakat menjadi lebih baik dan benar sehingga pada akhirnya masyarakat memiliki keyakinan akan adanya kepastian hukum yang sesungguhnya.

“Pelayanan hukum kepada masyarakat akan ditingkatkan lagi menjadi lebih baik, sehingga masyarakat merasa yakin akan adanya kepastian hukum yang berlaku di negeri ini,” katanya.

Sementara itu, Bupati Lebak, H. Mulyadi Jayabaya dalam sambutanya, mendukung langkah yang diambil pihak kejaksaan dalam memberikan pelayanan hukum yang terbaik bagi masyarakat, baik pelayanan hukum Perdata maupun Pidana.

“Negera kita adalah Negara hukum, untuk itu, kita patut mentaati, mematuhi dan melaksanakan hukum itu dengan baik dan benar sesuai dengan Undang-undang yang berlaku,” katanya.

RA. Sudrajat

Jalan Kadulapang – Jaraja Rusak Berat

Sejumlah warga Desa Anggalan Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak Provinsi Banten, khusus yang berada dijalur Jalan Kadulapang – Jaraja merasa dianak tirikan oleh pemerintah. Pasalnya, setelah bertahun-tahun kondisi jalan yang rusak parah dibiarkan oleh pemerintah begitu saja tanpa ada tanda-tanda akan di perbaiki atau dibangun. Hal itu, diutarakan tokoh masyarakat setempat, Rahmat pada MN dikediamannya belum lama ini.

Dikatakan Rahmat, kondisi jalan yang rusak parah tersebut sangat mengganggu warga untuk melakukan aktivitas. Padahal kata Rahmat lagi, jalan Kadulapang – Jaraja adalah jalan vital yang ada di Desa Anggalan yang dapat menghubungkan ke kampung-kampung lain atau ke desa-desa lain, bahkan hingga perbatasan Kabupaten Pandeglang.

Dijelaskan rahmat, di Desa Anggalan terdapat potensi hasil Sumber Daya Alam (SDA) yang besar seperti buah-buahan, Durian, Dukuh, Kelapa, Manggis, Padi serta Batu cadas juga ada beberapa kerajinan Anyaman (Tikar). Selain itu, disepanjang jalan Kadulapang – Jaraja terdapat lembaga pendidikan atau sekolah yakni, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al- Aulad yang memiliki siswa yang cukup banyak.

Kondisi jalan yang rusak tersebut, lanjut Rahmat, apabila musim hujan, sangat sulit sekali dilalui oleh kendaraan baik kendaraan roda dua maupun roda empat, karena cilin dan bercampur tanah merah.

“Kalau musim hujan tiba, pokoknya jalan Kadulapang – Jaraja sangat sulit dilalui oleh kendaraan, baik mobil maupun motor,” jelas Rahmat.
Minta segera dibangun

Selain Rahmat, ada lagi Sahra, tokoh masyarakat setempat yang juga sama merasa dampak dari kondisi jalan yang rusak parah. Dikatakannya, kondisi Jalan Kadulapang – Jaraja rusak parah yang panjangnya kurang lebih 2 kilometer, berdampak pada tingginya biaya yang dikeluarkan bila ingin beraktivitas, berpergian keluar desa. Hal ini sangat memberatkan warga desa Anggalan yang sebagian besar warganya tidak mampu.

Untuk itu, Sahra berharap kepada pemerintah untuk segera membangun atau memperbaiki kondisi jalan Kadulapang – Jaraja, agar masyarakat desa dapat leluasa melakukan aktivitasnya dan dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyakarat.
“Kami sangat berharap sekali kepada pemerintah untuk segera memperhatikan dan membangun Jalan Kadulapang – Jaraja yang kondisinya rusak parah. Agar beban yang dialami oleh warga desa dapat berkurang,” Kata Sahra pada MN
RA. Sudrajat

Dishutbun Lebak Lestarikan DTA

Dalam rangka mempercepatan penghijauan lahan krisis, pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Lebak melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lebak melakukan rehabilitisir kawasan tangkapan air (cathment area) guna menyimpan cadangan stok air dalam tanah. Hal itu ditegaskan Kepala bidang (Kabid) Kehutanan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Asep Muladi pada MN diruang kerjanya (23/7).

Dikatakan Asep, bukti keseriusan dan kepedulian Pemkab Lebak dalam upayanya memelihara dan melestarikan alam dan kawasan tangkapan air, pada tahun 2009 ini dialokasikan di 4 Kecamatan di Kabupaten Lebak, diantarannya, Kecamatan Cibadak, Warunggunung, Panggarangan dan Kecamatan Cilograng.

Sementara itu ditempat terpisah, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Daerah Tangkapan Air dan Bendungan (DTA) yang juga menjabat Kasi Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Dinas kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Noerly Edlinar, S Hut saat di konfirmasi MN diruang kerjanya belum lama ini mengatakan, pada kegiatan tersebut pelaksanaannya dilaksanakan oleh kelompok tani dengan melakukan penanaman pohon di Daerah Tangkapan Air (DTA) sebanyak 10 ribu batang/bibit pohon dengan luas areal 20 hektare perunitnya. Jenis pohon yang dinanam, lanjut Noerly, bermacam-macam seperti, Albasiah, Mahoni, Pulai, Kaliandra, Bambu, Sukun dan Jengkol.

Kegiatan tersebut bertujuan, untuk mengurangi atau mengantisipasi terjadinya erosi permukaan tanah dan dapat tersedianya air sepanjang tahun dalam kapasitas yang cukup.
“Hal ini dilakukan guna menjaga atau mengurangi terjadinya erosi pada permukaan tanah dan tersedianya air sepanjang tahun dalam kapasitasi yang cukup,” katanya pada Banten Ekspose diruang kerjanya (15/7).

Diharapkan pada kegiatan tersebut, lanjut Noerly lagi, dapat meningkatkan motivasi masyarakat sekitar DTA, untuk menjaga tanaman atau tegakan di sekitar DTA dan meningkatkan kesejahteraan kelompok tani dalam pelestarian sumber daya alam (PSDA).

RA. Sudrajat

Jumat, 17 Juli 2009

Puskesmas Mandala Selesai Dibangun

Dengan selesainya pembangunan Puskesmas Mandala, yang berlokasi di mandala Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak sekalipun belum diresmikan oleh Bupati Lebak namun Puskesmas tersebut sudah berpungsi melayani sejumlah pasien yang datang seperti halnya Puskesmas lainnya.

Kepala Puskesmas Mandala H. Khaerudin saat ditemui MN di ruang kerjanya (14/7) menegaskan Puskesmas Mandala memiliki 15 ruang yang dilengkapi satu Dokter Umum, 8 Bidan,7 Perawat dan 4 bagian administrasi. Puskesmas ini merupakan Puskesmaske dua yang ada di Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak.

“Puskesmas ini lokasinya termasuk di jalur lintas padat, dengan hal tersebut sangat pentingnya penambahan ruangan serta dibangunnya ruang Unit gawat Darurat (UGD) dan bila Puskesmas Mandala tersebut sudah dilengkapi ruang UGD, tentunya pelayannan terhadap pasien berlaku 24 jam,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, H. Maman Sukirman ketika dihubungi Via HP mengatakan, dibangunnya Puskesmas yang berlokasi di mandala sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam pelayannan kesehatan, khususnya adanya Terminal Mandala yang sering terjadi kecelakaan.

“Tentu pentingnya ruang UGD khusus dan Insya Allah tahun yang akan datang akan segera dibangun,“ tegas H. Maman.

RA.Sudrajat